Pementasan 3 Repertoar di Bandung

-->
ANTARA/Agus Bebeng/Koz/pd/10.
8/10/2010 10:5

foto pantomim
BANDUNG, 8/10 - PANTOMIM. Salah satu adegan pementasan Pantomim dari Bengkel Mime Theatre di Studio Teater STSI Bandung, Jawa Barat, Kamis (7/10) malam. Bengkel Mime Theatre menampilkan tiga repertoar pementasan "Rudy Goesto School", "Potret Terakhir" dan "Aku Malas Pulang ke Rumah" yang bercerita tentang realitas keseharian yang dibalut dengan satir dan menghadirkan suasana dramatis. FOTO ANTARA/Agus Bebeng/Koz/pd/10.
8/10/2010 10:5


============================================================


Eksplorasi Rasa Melalui Olah Tubuh

Oleh : Putri Sarinande / herlinda putri, s.si


            Bermula dari menonton pementasan dari Bengkel Mime Theatre di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung pada 7 Oktober 2010 silam, saya bertanya-tanya apa dan kenapa pantomim.
            Mengapa saya perlu bertanya demikian? Sederhana saja. Dua dari total tiga karya yang saya saksikan, saya terkagum-kagum dengan gerakan setiap pemain yang tampak begitu alami.
            Berhubung saya telat, maka saya langsung menyaksikan tanpa sempat membaca penjelasan pementasan mereka.
            Dalam “Potret Terakhir”, saya menyaksikan tiga tokoh yang kadang saling berinteraksi dan kadang tidak. Bahkan mungkin, adakalanya mereka tampak saling mencari satu sama lain.
            Setelah membaca penjelasan pementasan mereka, saya menggarisbawahi kalimat “Mereka datang dari perasaan-perasaan yang menyusun petualangannya sendiri, petualangan yang membuat perempuan, lelaki dan bocah bajang itu saling bercerita di tengah kesendirian.
            Menurut saya, karya itu menunjukkan realitas keseharian kita. Orang-orang dapat datang dan pergi dalam hidup kita. Masing-masing, membawa cerita tersendiri. Adakalanya, kita tak dapat saling berjumpa karena sesuatu hal. Adakalanya kita berjumpa tanpa direncanakan. Apa yang membawa kita pada perjumpaan, hanya diri sendiri yang mengetahui, sebenarnya. Namun, tampaknya ritme hidup menenggelamkan rasa ingin tahu manusia untuk menemukan jawaban, mengapa semua itu terjadi.
            Dalam “Aku Malas Pulang Ke Rumah” saya menangkap pesan kecenderungan realitas sebagian besar di antara kita. Realitas bahwa kita bergerak mengikuti ritme aktivitas komunal. Apa yang kita lakukan, adalah berdasarkan apa yang sebaiknya kita lakukan. Apa yang sebaiknya kita lakukan, adalah berdasarkan apa yang umumnya dilakukan lingkungan sekitar kita.
            Kembali saya menggarisbawahi teks penjelasan. Ada dua potongan, yaitu “… rumahnya seperti kedatangan ‘orang asing’ …” dan “… tikus-tikus berlintasan mengkerikiti rumahnya.
            Mungkin kita perlu bertanya, apa yang sebenarnya kita lakukan. Mengapa di akhir pementasan, para tokoh berubah menjadi tikus, menurut saya merupakan penjelasan bahwa kecenderungan dengan apa yang saya sebut ‘aktivitas komunal’ menjadikan kita kurang tampak seperti manusia. Kita menjadi asing satu sama lain, dan bahkan asing dengan diri sendiri. Lalu kita sibuk mencari jawaban ke luar dan kerap luput mencarinya ke dalam. Luar dan dalam itu sejatinya ada pada diri sendiri.
Rumah secara harfiah berarti tempat tinggal. Akan tetapi, dalam pertunjukkan ini saya menerima kata rumah sebagai diri sendiri. Terlepas dari status dan keadaan kita, apakah kita ini anak atau orangtua, istri atau suami, pekerja atau pelajar, rajin atau malas, apa saja.
            Oleh sebab itu, karya “Aku Malas Pulang Ke Rumah” saya anggap sebagai sebuah ajakan untuk kembali menengok ke dalam diri sendiri. Ajakan itu merupakan bagian dari mengurangi kecenderungan kita untuk menengok ke luar diri terus-menerus.
            Lantas, apa itu pantomim?
            Secara sederhana pantomim berasal dari Bahasa Latin, pantomimus, yang berarti meniru segala sesuatu. Entah itu mimik wajah, atau gerak tubuh. Sebelum suara atau bahasa lisan manusia berkembang, gerak tubuh berfungsi sebagai cara berkomunikasi.
Namun, apakah sesederhana itu? Saya mengutip teks penjelasan pertunjukkan tari “Selamat Datang Dari Bawah” karya koreografer Fitri Setyaningsih. Menurut saya, tari dan pantomim memiliki benang merah dalam hal gerak dan tubuh. Teks itu berbunyi, “Fitri percaya bahwa tari tidak semata-mata peristiwa tubuh. Tari merupakan peristiwa media yang melibatkan banyak disiplin”.
Merujuk pemahaman saya sendiri, saya yakin pantomim pastilah melibatkan banyak disiplin. Disiplin ini berupa dua hal, disiplin dalam olah tubuh melalui gerak dan mimik, dan disiplin dalam eksplorasi rasa.
Kalau begitu, mengapa pantomim?
Para pemain dalam pertunjukkan pantomim hanya berusaha menyampaikan sesuatu melalui gerak-gerak bisu ekspresif. Ada begitu banyak gerak di sekitar kita. Baik gerakan alami, atau pun gerakan yang disengaja. Gerak-gerak di sekitar kita umumnya diiringi bunyi dari yang melakukan gerak itu sendiri. Pantomim memberi kita kesempatan untuk memaknai setiap gerak, tanpa pengaruh bunyi dari gerak yang disajikan. Dengan demikian, kita dapat memiliki kesempatan untuk mendengar apa yang diri kita sendiri rasakan saat menyaksikan setiap gerak.
Berpikir dan merasakan, adalah hal yang menjadikan kita manusia. Pantomim, dengan gerak bisu ekspresifnya, ikut andil memberikan kita kesempatan menjadi manusia.


Catatan kaki yang ditulis oleh tangan:
Tulisan ini merujuk pada berbagai sumber untuk melengkapi pembacaan penulis, dalam upayanya  mengapresiasi pertunujukkan oleh Bengkel Mime Theatre di STSI Bandung pada 7 Oktober 2010.

No comments:

Post a Comment